Selasa, 23 Februari 2016

Penyair Terhunus (2)

Apa kabarmu kawan..
Belati mu masihkah terhunus di sentuhan kata ? Syair tentang kemarahan dan dendam hingga menyayat tulang-tulang cinta
Aku kembali datang menyapamu ,berharap belatimu menemaniku malam ini
Gelegar petir dan angin yang kencang ,guyuran air hujan deras menyelimuti parasku

Bunga mawar hitam yang merekah kudekap erat dalam relung jiwa ,menunggu saat yang kelam pada waktu yang tak boleh terulang
Tanganku masih menggenggam nya..
Dengan darah dan airmata yang berpadu hujan
Kusatukan bait-bait kekecewaan dengan cinta dan kemarahan

Ini syair yang pekat..
Tak pantas untuk menjadi putih

Penyair terhunus ..mungkin kau ada di sampingku saat ini ,lemah nadi mu kurasakan bergetar di ranting berduri yang penuh darah
Engkau tersenyum ?
Disana di tempat yang nantinya aku akan berada, menunggu hingga saatnya kemana keabadianku menetap

Darimu kudapati arti setitik cahaya dalam gelap
Darimu kutahu dimana letak keramaian dalam sepi
Darimu hitam dan putih bisa berdampingan dalam kejelasan

Kata tanpa suara kembali kuhadirkan diantara waktu berpulang
Selamat tidur ...


"Penyair Terhunus - Hana Karimah"

Senin, 22 Februari 2016

Kamu di dekat ku


kamu pun tahu apa yg kamu hadapi
kamu pun juga tahu apa yg kamu rasakan
kamu juga seharusnya tahu apa itu ikhlas

dan pasti kamu pun tahu arti kata sabar
inilah dunia alam fana yg tidaklah abadi
pelajari,rasakan,nikmati perjalananmu
karena kamu tahu kebahagiaan sesungguhnya
adalah esok di alam keabadian 


Kesabaran adalah keutamaan
Keikhlasan adalah sahabat
Jadikan sakit sebagai senyummu

Karena pasti datangku juga senyummu
Karena aku seorang durjana yang bisa menjadi malaikat dan juga sebagai iblis...


Kukembalikan semua kepadaNya
Cinta memang tak harus memiliki
Tapi kupercaya alam yang abadi

Disana lah kita akan dipertemukan
Dalam doa kita bersama
Dalam hati kita bersama


Getaran nadimu pun masih kurasa
Meski mata tak melihat ujud
Hati yang selalu bersamamu

Tak pernah ragu menapaki jalan
Di selembar sajadah
Kutitipkan bahagiamu dalam doa kepadaNya
Kuselipkan senyummu dalam tasbihku

Nyanyian Sang Legenda


aahh..duniamu tetap kesabaran
Berpangku harapan dan doa
Menanti matahari menerangi langit

Tangis dan senyummu sedalam kesetiaan
Suaraku hanya angin di sebatas pelepas dahaga

Di dasar relung jiwaku Bergema nyanyian tanpa kata;
sebuah lagu yang bernafas di dalam benih hatiku,


Yang tiada dicairkan oleh tinta di atas lembar kulit ;
ia meneguk rasa kasihku dalam jubah yg nipis kainnya,
dan mengalirkan sayang, Namun bukan menyentuh bibirku.

Betapa dapat aku mendesahkannya?
Aku bimbang dia mungkin berbaur dengan kerajaan fana
Kepada siapa aku akan menyanyikannya?

Dia tersimpan dalam relung sukmaku
Kerna aku risau, dia akan terhempas
Di telinga pendengaran yang keras.
Pabila kutatap penglihatan batinku

Nampak di dalamnya bayangan dari bayangannya,
Dan pabila kusentuh hujung jemariku
Terasa getaran kehadirannya.
Perilaku tanganku saksi bisu kehadirannya,
Bagai danau tenang yang memantulkan cahaya bintang-bintang bergemerlapan.

Air mataku menandai sendu
Bagai titik-titik embun syahdu
Yang membongkarkan rahsia mawar layu.
Lagu itu digubah oleh renungan,
Dan dikumandangkan oleh kesunyian,
Dan disingkiri oleh kebisingan,Dan dilipat oleh kebenaran,
Dan diulang-ulang oleh mimpi dan bayangan,
Dan difahami oleh cinta,
Dan disembunyikan oleh kesedaran siang
Dan dinyanyikan oleh sukma malam.

Lagu itu lagu kasih-sayang,
Gerangan ‘Cain’ atau ‘Esau’ manakah Yang mampu membawakannya berkumandang?
Nyanyian itu lebih semerbak wangi daripada melati:
Suara manakah yang dapat menangkapnya?
Kidung itu tersembunyi bagai rahasia perawan suci,
Getar nada mana yang mampu menggoyahnya?
Siapa berani menyatukan debur ombak samudra dengan kicau bening burung malam?
Siapa yang berani membandingkan deru alam, Dengan desah bayi yang nyenyak di buaian?
Siapa berani memecah sunyi
Dan lantang menuturkan bisikan sanubari
Yang hanya terungkap oleh hati?
Insan mana yang berani melagukan kidung suci Tuhan?


Membaca Dalam Gelap


Aku ingin membaca dalam gelap 
Dengan lentera ingatan
Cahaya yang diberi Tuhan sedari kandungan
Lilin yang tak pernah habis
Melentik dari ubun menuju hati
Itulah nur Illahi

Tanpa buku catatan
Perjalanan menjadi ensiklopidia yang tak terbit dari percetakan
Jejak- jejak yang tercipta lahir dari buah pikir
Lelakon dari pengembaraan hingga menjadi musafir

Dalam gelap
Ada ayat yang terpendam
Halaman- halaman tanpa mengenal kata tamat
Paragraf- paragrap menjadi biografi diri
Tempat kita berkaca
Kapan merenung hingga bangkit tanpa tahu kita mati

Dalam gelap
Aku menjadi sendiri
Membaca buku diri
Tanpa ada yang mempengaruhi


Hujan di penghujung senja


Secawan senja di penghujung siang
Berantaikan kelabu di hamparan keemasan
Suara-suara kebisingan perlahan meredup

dan tetes air mulai jatuh dari langit
Masih seperti beberapa purnama yang lalu
Mengenalmu dengan lembaran harapan yg sama
Dimengerti,dipahami hanya kiasan yang sering hadir dalam mimpi
Tetes air semakin deras membasahi malam
Tak bergeming senyumku memahami bait demi bait rahasiamu
Risau mu,lelah mu,gundah mu...
Diantara harapan yg tak kunjung datang
akankah menggelegar seperti halilintar?
Cukupkah sebuah kesetiaan di saat tanggung jawab untuk menjadi imam mu belum siap?
Apalah dunia ini hanya lembaran-lembaran hitam dan putih yg terangkum sebagai bekal menuju kebahagiaan yg abadi
Ucap ku sebagai durjana senja
Tetap seperti ini atau melepaskan semua untuk mencari sesuatu yg memang tak gampang dicari...
Hanya lantunan doa di setengah malam
yang mampu menjawab pertanyaanmu